Bupati Mimika Johannes Rettob Saat Membukan Kegiatan Gerakan Pangan Murah Dalam Rangkan HUT Pangan Se-Dunia. [FOTO:Rayar)
TIMIKA| Hari Pangan Sedunia 2025 menyerukan kolaborasi global dalam menciptakan masa depan yang damai, berkelanjutan, sejahtera, dan berketahanan pangan. Dengan bekerja sama, lintas pemerintah, organisasi, sektor, dan komunitas, kita dapat mentransformasi sistem agrifood untuk memastikan setiap orang memiliki akses terhadap pola makan sehat, hidup selaras dengan planet ini. (16/10/2025)
Kabupaten Mimika-Provinsi Papua Tengah juga memperingati hari pangan se-dunia dengan menyelenggarakan kegiatan Gerakan Pangan Murah, Melalui Dinas Ketahan Pangan Pada Hari Kamis 16 Oktober 2025. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Bupati Mimika Johannes Rettob, Sos.,M.M. Didampingi kepala dinas Ketahanan Pangan Samuel Yogi bersama-sama pinpinan Forkompimda juga Dihadiri kepala pimpinan OPD.
Saat membukan kegiatan itu, Bupati Mimika Johannes Rettob mengatakan, dengan tema “Bergandengan Tangan untuk Pangan yang Lebih Baik dan Masa Depan yang Lebih Baik.”
Bupati Jhon sapaan akrabnya, mengatakan
peringatan ini bukan hanya seremoni tahunan, tetapi menjadi momentum penting bagi kita semua dalam meneguhkan komitmen untuk mewujudkan ketahanan pangan daerah, menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan, serta mendukung upaya pemerintah dalam menekan laju inflasi.
Tema dan rangkaian kegiatan hari ini sangat relevan dengan kondisi ekonomi masyarakat kita, khususnya di wilayah-
wilayah distrik yang masih membutuhkan akses yang merata dan harga pangan yang terjangkau.
“saya memberikan apresiasi kepada dinas ketahanan pangan kabupaten mimika, yang telah melaksanakan kegiatan ini, serta seluruh panitia, perangkat distrik, dan mitra yang terlibat.”
Kehadiran gerakan pangan murah di distrik – distrik merupakan langkah nyata
pemerintah daerah dalam memastikan masyarakat memperoleh bahan pangan pokok dengan harga yang stabil, sekaligus mengurangi potensi gejolak harga di pasaran.
Selain itu, lomba cipta menu pangan lokal yang telah dilaksanakan menunjukkan betapa kayanya keanekaragaman pangan
yang kita miliki. Dengan memanfaatkan bahan pangan lokal seperti sagu, umbi-umbian, hasil pertanian dan laut-kita sesungguhnya tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga memperkuat kemandirian dan keberlanjutan pangan lokal.
“Saya berharap hasil kreativitas para pemenang hanya berhenti pada kompetisi, tetapi dapat dikembangkan menjadi
produk unggulan keluarga dan daerah, mendorong industri rumah tangga, serta menjadi inspirasi bagi generasi muda untuk lebih mencintai pangan lokal.”
Pemerintah kabupaten mimika, selalu mendukung ekosistem pangan melalui berbagai program strategis, antara lain:
> penguatan produksi dan distribusi pangan di tingkat distrik dan
kampung,
➤ dukungan kepada petani, nelayan, dan pelaku umkm pangan,
➤ edukasi gizi seimbang dan konsumsi pangan lokal,
➤ serta pengendalian inflasi melalui koordinasi lintas sektor.
Namun keberhasilan upaya ini tidak akan tercapai tanpa dukungan semua pihak.
“Oleh karena itu, saya mengajak masyarakat, tokoh adat, dunia usaha, dan seluruh elemen pembangunan di mimika untuk ikut serta menjaga stabilitas pangan dan mengubah pola pikir konsumsi
agar tidak hanya bergantung pada beras dan produk impor.
Melalui kegiatan ini, saya ingin menegaskan bahwa ketahanan pangan bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga akses, mutu. (Pewarta/Rayar)










