Perayaan Natal Dan Doa Pemulihan Klasis Persiapan Duma Kabupaten Mimika-Papua Tengah.(FOTO/tambelopapua.com)
TIMIKA| Badan Pengurus Harian (BPH) Klasis Persiapan Duma 2025/2026, Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, menggelar perayaan Natal Perdana. Kegiatan ini bertujuan mempererat persatuan jemaat sekaligus menyambut kemuliaan Tuhan.
Perayaan Natal yang dipersiapkan oleh BPH Klasis Persiapan Duma periode 2025/2026 ini mengusung Tema utama yang berfokus pada kesejahteraan umat. “Terpujilah Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara orang-orang yang berkenan kepada-Nya.”

Tema tersebut merujuk pada ayat Alkitab Lukas 2:14, yang menjadi dasar pesan pelayanan dan persatuan gereja. Sementara itu, Sub Tema perayaan ini lebih menekankan pada semangat kebersamaan dan persiapan diri dalam menyambut Natal.
“Mari dengan sangat merayakan Natal Pertama Klasis Persiapan Duma dengan bersatu hati dan mempersiapkan diri untuk menerima Kemuliaan Tuhan.”

Klasis Persiapan Duma merupakan bagian dari pelayanan Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua yang beroperasi berdasarkan Surat Keputusan Kepala Kantor Wilayah Provinsi Papua Nomor: K.II.A/HK.I/554/2010. Klasis ini telah mendapat Rekomendasi Pendaftaran Tetap Pelayanan Tetap pada tanggal 30 Oktober 2014.

Perayaan Natal perdana ini diharapkan menjadi tonggak sejarah bagi Klasis Persiapan Duma dalam menjalankan tugas pelayanan dan memperkokoh iman jemaat di wilayah tersebut.

Ketua Sinode Gereja Kemah Injil (KINGMI) di Tanah Papua, Pendeta Yahya Lagoan, S.Th., M.Th., menyampaikan renungan yang mendalam dalam konteks perayaan Natal. Dalam khotbahnya, Pendeta Yahya Lagoan menyoroti tantangan dunia yang semakin kompleks serta panggilan bagi setiap jemaat untuk teguh dalam iman dan menjadi terang bagi sesama.
Pendeta Yahya Lagoan yang telah melayani di Sinode selama hampir 20 tahun, menekankan bahwa kehadiran seorang pemimpin gereja dalam perayaan jauh lebih berharga daripada pemberian materi.

“Saya tidak bawa sesuatu, tetapi saya percaya kehadiran saya sebagai pemimpin akan memberi kekuatan, memberi motivasi, memberi penghiburan untuk kita terus semangat, terus kita kuat dalam mengiring Tuhan,” ujarnya, menegaskan bahwa dukungan spiritual dan moral adalah hal yang utama.
Beliau juga mengungkapkan bahwa tantangan pelayanan di Papua sangat besar, di mana kondisi dunia saat ini sedang “tidak baik” karena berbagai aspek kehidupan, termasuk politik, ekonomi, hingga adat dan budaya, seakan-akan menyerang iman jemaat.

Pendeta Yahya Lagoan secara eksplisit mengajak jemaat untuk melakukan introspeksi diri, mengakui bahwa kondisi jemaat saat ini masih berada dalam “konteks yang lama” dan belum sepenuhnya diperbarui.
“Kita belum diperbaharui. Hidup kita belum menjadi sungguh-sungguh anak-anak Tuhan. Kita tidak menjadi terang untuk orang lain,” tegasnya, menantang jemaat untuk menjalankan peran mereka sebagai garam dan terang dunia. (Rayar)









