NEWS  

TPNPB Kodap XVI Yahukimo Keluarkan Ultimatum: Guru, Nakes, dan Warga Sipil Diminta Segera Tinggalkan Dekai

Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka.(FOTO/Tangkap Layar)

YAHUKIMO – Manajemen Markas Pusat Komando Nasional Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (KOMNAS TPNPB) merilis pernyataan keras terkait situasi keamanan di Kabupaten Yahukimo, Papua Pegunungan. Melalui siaran pers resmi pada Kamis (19/2/2026), TPNPB Kodap XVI Yahukimo mengeluarkan ultimatum agar warga sipil segera mengosongkan wilayah konflik.

Komandan Operasi TPNPB Kodap XVI Yahukimo, Mayor Kopitua Heluka, menegaskan bahwa seluruh tenaga layanan publik, termasuk guru dan tenaga kesehatan (nakes), diminta untuk segera keluar dari zona merah.

Dalam laporannya, Mayor Kopitua Heluka menyatakan bahwa pihaknya tidak akan ragu mengambil tindakan tegas terhadap mereka yang dianggap sebagai kepanjangan tangan intelijen militer.

“Kami mengeluarkan ultimatum kepada guru-guru dan tenaga kesehatan agar segera keluar dari wilayah konflik bersenjata. Jika bertahan, kami cap sebagai agen intelijen militer kolonial Indonesia dan siap ditembak,” tegas Heluka dalam siaran pers tersebut.

Selain itu, TPNPB mengancam akan melakukan aksi pembakaran terhadap fasilitas publik seperti rumah guru, rumah sakit dan kantor pusat pemerintahan.

Pihak TPNPB berdalih bahwa fasilitas-fasilitas tersebut diduga digunakan sebagai basis operasional oleh aparat keamanan Indonesia.

TPNPB menyatakan bahwa wilayah Kota Dekai kini masuk dalam zona operasi tempur mereka. Masyarakat asli Papua (OAP) diimbau untuk segera kembali ke kampung masing-masing dan beraktivitas di kebun sesuai aturan budaya untuk menghindari jatuhnya korban jiwa.

“Kami mengimbau kepada pegawai, tokoh agama, dan warga sipil lainnya, jika ada apa-apa di wilayah konflik, segera keluar dan mengungsi karena wilayah Kota Dekai menjadi sasaran operasi TPNPB,” lanjut pernyataan tersebut.

Pihak TPNPB menyatakan tidak akan bertanggung jawab atas keselamatan individu yang masih berada di gedung-gedung pemerintah saat penyerangan dilakukan. Mereka menegaskan bahwa seluruh bangunan pemerintah menjadi target operasi eksekusi.

Hingga saat ini, pihak TPNPB Kodap XVI Yahukimo mengeklaim terus memantau pergerakan aparat militer Indonesia di lapangan dan menyatakan bahwa serangan dapat terjadi kapan saja. (Rayar)

You cannot copy content of this page