Dubes Seychelles Tutup Festival Budaya Biak: Nilai Konservasi Laut Satukan Biak dan Seychelles

Penutupan Kegiatan Festival Budaya Biak.(FOTO/tembelopapua.com)

BIAK NUMFOR|Festival Budaya Biak (FBB) 2025 yang berlangsung selama empat hari, dari 17 hingga 20 Oktober, resmi ditutup oleh Duta Besar Negara Seychelles untuk Indonesia, Nico Barito, di Lapangan Cendrawasih Biak, Senin (20/10/2025). Festival ini dilaporkan berhasil menarik perhatian ribuan wisatawan nusantara dan mancanegara serta mendapat dukungan dari berbagai pihak. (21/10/2025)

Dalam sambutannya, Dubes Nico Barito menyoroti kesamaan nilai luhur antara masyarakat Biak dan Seychelles. Ia menilai setiap nyanyian, tarian, dan lagu tradisional masyarakat Biak sarat dengan pesan cinta terhadap alam, laut, dan lingkungan—nilai yang juga dijunjung tinggi oleh masyarakat Seychelles.

“Saya memperhatikan lagu-lagu dan tarian di Biak selalu bercerita tentang alam laut, matahari, dan sungai. Sama seperti di Seychelles, kami percaya laut adalah tempat kami hidup, dan alam harus dijaga baik-baik, bukan disalahgunakan,” ujar Dubes Seychelles.

Dubes menegaskan pentingnya menjaga warisan alam yang dipercayakan Tuhan untuk kehidupan hari ini dan masa depan. Ia menyatakan bahwa pemerintah Seychelles berkomitmen memperkuat kerja sama dengan Kabupaten Biak Numfor di bidang kebudayaan dan pariwisata berkelanjutan. Sebagai bentuk pengakuan, Dubes Seychelles juga dinobatkan sebagai Duta Besar Wisata Biak Numfor.

“Kami berharap tahun depan, pada Biak Culture Festival 2026, kami dapat membawa serta perwakilan budaya dari negara-negara lain, termasuk Afrika, yang memiliki kesamaan ikatan alam dan budaya dengan Papua,” tambahnya.

Dukungan Pusat dan Target Sejajar Bali:

Wakil Bupati Biak Numfor, Jimmy Carter Rumbarar Kapissa, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, dukungan khusus dari Ketua DPD RI, serta kehadiran Dubes Seychelles, yang dinilai menunjukkan keseriusan pemerintah pusat untuk membangun Biak Numfor secara berkelanjutan.

“Festival ini bukan sekadar perayaan seni dan adat, tetapi momentum membangun budaya disiplin, budaya kerja, hidup bersih, kerukunan antarumat beragama, serta karakter masyarakat Biak Numfor yang unggul,” ujar Wakil Bupati.

Dengan semangat optimisme, ia menyatakan, “Ini saatnya Biak Numfor berdiri sejajar dengan daerah maju seperti Bali dan Yogyakarta.”

Sebelumnya, Ketua Panitia sekaligus Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Biak Numfor, Turbey O Dangeubun, melaporkan bahwa FBB 2025 berhasil menarik kunjungan 8.100 wisatawan nusantara dan 352 wisatawan mancanegara.

“Sementara perputaran uang yang terjadi [selama FBB] adalah Rp 2,1 Miliar dalam 4 hari penyelenggaraan FBB,” ucap Turbey.

Melalui dukungan berbagai pihak, kegiatan ini terbukti tidak hanya menjadi ajang hiburan, tetapi juga wahana memperkenalkan kekayaan seni dan tradisi Biak ke dunia, sekaligus penggerak ekonomi lokal.

Koneksi Samudra Biak-Seychelles, Pintu Gerbang Wisata Bahari Berkelanjutan:

Penutupan Festival Budaya Biak (FBB) oleh Duta Besar Seychelles, Nico Barito, memberikan dimensi baru yang signifikan bagi Biak Numfor. Hubungan yang terjalin, didasarkan pada kesamaan filosofis dalam menghormati laut, membuka peluang besar bagi Biak untuk memposisikan diri di pasar pariwisata internasional sebagai destinasi bahari berkelanjutan, bukan hanya sebagai daerah yang eksotis.

Pengakuan dari negara kepulauan seperti Seychelles, yang sukses dengan pariwisata baharinya, adalah validasi penting bagi Biak. Hal ini sejalan dengan visi Wakil Bupati untuk membuat Biak berdiri sejajar dengan Bali dan Yogyakarta. Namun, untuk mencapai visi tersebut, Biak harus menerjemahkan apresiasi budaya ini menjadi tata kelola pariwisata yang disiplin dan infrastruktur yang mendukung.

Perputaran uang sebesar Rp 2,1 Miliar dalam empat hari menunjukkan potensi ekonomi yang luar biasa. Jika nilai-nilai konservasi alam yang digarisbawahi oleh Dubes Seychelles diintegrasikan secara ketat dalam setiap pengembangan pariwisata, Biak Numfor akan memiliki fondasi kuat untuk menjadi destinasi kelas dunia yang bertanggung jawab dan berkelanjutan. (Red)

You cannot copy content of this page