Pendeta Naor Maiseni (FOTO:Ray)
INTAN JAYA| Situasi keamanan yang sempat memanas di Kabupaten Intan Jaya baru-baru ini memicu keprihatinan mendalam dari tokoh agama setempat.
Bentrokan bersenjata yang melibatkan aparat TNI-Polri dan kelompok TPNPB-OPM dilaporkan telah berdampak serius pada kehidupan masyarakat sipil, terutama warga gereja.
Menyikapi kondisi tersebut, Pendeta Naor Maiseni menyampaikan rasa prihatinnya atas jatuhnya korban dari kalangan masyarakat yang sama sekali tidak mengetahui persoalan tersebut.
“Masyarakat yang tidak tahu apa-apa menjadi korban, lebih khususnya warga jemaat. Sebenarnya mereka adalah orang-orang yang tidak berdosa, tetapi malah mereka yang harus menanggung dampaknya,” ujar Pendeta Naor Massini dalam sebuah ungkapan kepada media ini, Rabu (1/7/2026).
Menurut Pendeta Naor, dampak dari konflik ini sangat merugikan warga. Sejumlah rumah warga dilaporkan dibakar, bahkan fasilitas gereja pun turut menjadi sasaran pembakaran dalam peristiwa tersebut. Yang lebih memprihatinkan, seorang hamba Tuhan atau pelayan umat dilaporkan turut menjadi korban jiwa.
Pendeta Naor menyayangkan berulangnya kejadian di mana hamba Tuhan menjadi korban dalam konflik bersenjata di Intan Jaya. Ia menegaskan bahwa dalam ajaran Kristen, membunuh sesama manusia adalah hal yang sangat dilarang oleh firman Tuhan karena nilai kemanusiaan di mata Pencipta sangatlah tinggi.
“Seorang hamba Tuhan adalah pelayan umat yang selalu mendoakan kehidupan rohani jemaat, mendoakan pelayanan pemerintah, termasuk aparat TNI-Polri sebagai pelindung masyarakat. Sangat disayangkan dalam konflik ini, hamba Tuhan justru menjadi korban. Kalau hamba Tuhan dibunuh, siapa lagi yang akan melayani dan menyampaikan berita kedamaian kepada umat?” tuturnya.
Di sisi lain, Pendeta Naor mengapresiasi kinerja Penjabat (Pj) Bupati Intan Jaya saat ini yang dinilai sudah mulai membawa perubahan positif, di mana roda pelayanan pemerintahan dan upaya normalisasi keamanan mulai berjalan baik.
Namun, ia mengkhawatirkan jika konflik serupa terus berulang, tata kehidupan masyarakat akan kembali terganggu, yang pada akhirnya menyulitkan pelayanan pemerintah dan gereja kepada masyarakat.
Oleh karena itu, pihak gereja menyampaikan desakan kuat kepada pemerintah, aparat keamanan TNI-Polri, maupun pihak TPNPB-OPM untuk segera mengakhiri konflik tersebut.
“Saya meminta kepada pihak pemerintah, aparat, bahkan pihak TPNPB-OPM, hentikan konflik ini mengakibatkan korban baik masyarakat dan para hamba Tuhan. Jangan sampai peristiwa seperti ini terulang kembali.
Sambuang dia. Warga jemaat harus dijaga agar mereka bisa hidup aman, tenang, dan penuh kedamaian di tanah yang sudah Tuhan berikan kepada mereka,” pungkasnya. (TP/Red)


