Umbu Tagela, Pemerhati Pendidikan. ( FOTO:Redaksi)
MIMIKA, TAMBELOPAPUA.COM – Dinamika dunia pendidikan tidak pernah lepas dari pergulatan teori yang mendasarinya. Sejak pertengahan abad lalu, sebuah aliran utama bernama behaviorisme telah membongkar batas-batas psikologi tradisional dan menawarkan pendekatan kependidikan yang menyentak.
Pendekatan ini tidak hanya mendapatkan pengakuan di kalangan ilmuwan modern yang menjunjung tinggi objektivitas dan metodologi ilmiah, tetapi juga diadopsi oleh komunitas bisnis yang mendambakan hasil langsung, efisiensi, serta keekonomisan.
Behaviorisme memiliki akar ideologis yang kuat, salah satunya adalah realisme filosofis. Dalam pandangan ini, manusia diposisikan sebagai bagian tak terpisahkan dari alam yang tunduk pada hukum-hukum alam. Tugas para behavioris adalah mengamati organisme hidup untuk mengungkap hukum tingkah laku, yang kemudian menjadi landasan bagi teknologi pengaturan perilaku.
Akar kedua adalah positivisme yang digagas Auguste Comte. Comte membagi sejarah berpikir manusia menjadi tiga tahap: teologis, metafisik, dan positif. Pada tahap positif, manusia tidak lagi berupaya melampaui fakta yang bisa diamati dan diukur. Verifikasi empiris menjadi hal utama, menolak esensi, perasaan, dan sebab-sebab “dalam” yang tak terukur. Akar ketiga adalah materialisme, yang menegaskan bahwa realitas dapat dijelaskan melalui hukum materi dan gerak, sekaligus menolak kepercayaan tentang jiwa, roh, dan kesadaran.
Eksperimen Pavlov hingga Kontroversi Skinner
Dalam perkembangan behaviorisme, nama Ivan Pavlov menjadi tonggak penting melalui kajiannya tentang reaksi refleks. Eksperimennya mengondisikan anjing untuk mengeluarkan air liur hanya dengan bunyi bel. Senada dengan itu, John B. Watson, bapak behaviorisme modern, menegaskan bahwa tingkah laku manusia adalah refleks yang terkondisikan. Ia berpendapat bahwa lingkungan adalah penentu utama tingkah laku, dan jika lingkungan seorang anak dapat dikontrol, maka anak tersebut bisa dirancang menjadi sosok apa pun.
Pengaruh paling besar datang dari B.F. Skinner. Karyanya seperti Science and Human Behavior (1953), Beyond Freedom and Dignity (1971), dan novel utopis Walden Two (1948) meletakkan dasar bagi modifikasi tingkah laku, mesin pengajaran, dan belajar terprogram. Skinner berada di pusat kontroversi karena dianggap mengabaikan kebebasan dan kemuliaan manusia. Ia berpendapat bahwa individu harus memutuskan bagaimana orang lain dikondisikan, sebuah pandangan yang mengingatkan pada visi George Orwell dalam 1984.
Bagi Skinner, manusia tidak memiliki status khusus di alam semesta. “Sebuah bagian kecil alam semesta diisi dengan badan masing-masing kita. Tiada alasan mengapa ia harus memiliki status khusus secara fisik,” tulisnya. Oleh karena itu, hukum belajar manusia dapat ditemukan melalui pengkajian terhadap tikus dan burung dara.
Pendidikan sebagai Proses Rekayasa Perilaku
Dari perspektif behavioris, pendidikan adalah proses rekayasa tingkah laku. Manusia dapat dirancang untuk berbuat tertentu melalui lingkungan. Aktivitas yang diberi ganjaran (penguatan positif) cenderung diulang, sedangkan yang dihukum cenderung ditinggalkan. Tugas pendidikan adalah menciptakan lingkungan belajar yang mengarah pada tingkah laku yang diinginkan.
Skinner mengkritik praktik pendidikan tradisional yang cenderung menggunakan hukuman badaniah, hardikan, dan ujian yang dirancang untuk menunjukkan apa yang tidak diketahui siswa. Akibatnya, siswa memilih menghindar, mengigau, agresif, atau bahkan putus sekolah. Sebaliknya, Skinner menyarankan agar guru menata lingkungan belajar yang memberikan penguatan positif terhadap tindakan yang diharapkan.
Harold Ozmon dan Sam Craver merangkum prosedur modifikasi tingkah laku di ruang kelas, mulai dari menentukan hasil yang diharapkan, menciptakan lingkungan menyenangkan, memilih penguat yang sesuai, membentuk tingkah laku secara bertahap, hingga mengevaluasi hasil. Untuk membantu guru, Skinner mengusulkan buku ajar terprogram dan mesin pengajaran yang memecah materi menjadi langkah kecil, sehingga siswa mendapat ganjaran di setiap tahap.
Gelombang Deschooling dan Kritik terhadap Institusi
Memasuki tahun 1970, dunia pendidikan menyaksikan usulan revolusioner dari Ivan Illich melalui bukunya, Deschooling Society. Illich, yang anti-institusionalisme, menentang monopolisasi pelayanan dan kesempatan oleh lembaga yang kaku dan mahal. Ia melihat sistem sekolah sebagai “sarang” yang mengajarkan generasi muda untuk menganggap model kelembagaan sebagai hal ideal.
Menurut Illich, siswa “disekolahkan” untuk mengacaukan pengajaran dengan belajar, ijazah dengan kompetensi, dan kelancaran bicara dengan kemampuan mengatakan sesuatu yang baru. Usulan deschooling menyerukan pembubaran sekolah dan pencabutan undang-undang wajib belajar, digantikan dengan sistem kuitansi atau dana kuliah yang memungkinkan ahli waris menentukan sendiri bagaimana membelanjakan dananya untuk pendidikan.
Illich mengusulkan “jaringan kerja pendidikan” yang menghubungkan subjek didik dengan guru, sesama pelajar, dan sarana belajar. Tujuannya adalah memberikan kesempatan belajar kapan pun, memberdayakan mereka yang ingin berbagi pengetahuan, dan menyuguhkan peluang bagi siapa pun yang ingin menampilkan isu permasalahan publik.
Refleksi bagi Pendidik
Teori-teori pendidikan ini, meskipun dibangun di atas kepercayaan metafisis, epistemologis, dan aksiologis, lebih dirangsang oleh persoalan riil pendidikan daripada isu kefilsafatan. Bagi para pendidik, mengkaji filsafat pendidikan menjadi penting untuk mempertebal kesadaran akan asumsi-asumsi filosofis yang membingkai teori pendidikan. Dengan demikian, para pendidik dapat mengevaluasi secara kritis sebelum menerapkan teori-teori tersebut dalam pelaksanaan,profesi.
Oleh: Umbu Tagela
(Pemerhati Pendidikan)










