Soal Tapal Batas Timika-Deyai, Intelektual: “Turun Temurun Mimika Sudah Punya Tapal Batas”

Tokoh Intelektual Mimika Jerry Diwitau, S.IP . M.Sos. (FOTO/tambelopapua.com)

TIMIKA| Salah satu Tokoh Intelektual Mimika Jerry Diwitau, S.IP . M.Sos., menanggapi salah satu tokoh intelektual Deyai yakni Petrus Badokapa dalam penyataanya melalui salah satu media online terkait tapal batas KabupatenĀ  Mimika dan Kabupaten Deyai. (13/11/2025)

Kata Jery tapal batas telah ada sejak turun temurun, bukan karena telah menempuh pendidikan barulah tahu akan tapal batas. Namun Dari generasi ke generasi yang ada.

“Kalau kami, anak-anak dari Arwanob, Dumada, Jewa, Boma, sampai Kapiraya, Bogobado ini, bukan karena sudah sekolah baru belajar,”ungkap jery.

Menurt jery orang tua sejak dulu sudah mengajarkan di mana batas-batas adat. Di dalam Adat suku Amungme itu biasa sebut turun temurun dari Jigimugi sampai Dalemako. Artinya ujung Amungme sampai ujung Amungme. “Jadi batas itu turun temurun kita pakai. Kita selalu diajarkan oleh orang tua kami”. Dari generasi ke generasi itu diajarkan untuk selalu ingat tapal batas kita.

Sehingga siapapun yang mengancam kabupaten Mimika terkait tapal batas adalah langkah yang salah karena kabupaten Mimika sudah mempunya tapal batas sendiri sejak dahulu.

Disisi lain ia juga menyoroti pihak pemerintah karena dinilai tidak pernah melibatkan lembaga adat, tokoh masyarakat, guna melihat kembali batas-batas wilayah bagian selatan, “Jangan hanya ingin kepentingan politik dan luas wilayah semua pihak ribut hari ini. Saya tegaskan lebih baik stop!.

Lanjut Jery hingga saat ini masyarakat tapal batas trans timika-nabire hanya mendapatkan pelayanan pendidikan, kesehatan, semua bersumber dari dana kemitraan PT Freeport Indonesia melalui YPMAK. Sehingga dirinya menghimbau pihak-pihak tertentu tidak sembarang mengklaim batas wilayah adat kabupaten Mimika.

“Saya salah satu anak adat di daerah tapal batas, tekankan stop klaim tapal batas sembarangan. Ketika masyarakat menjadi korban tidak mendapatkan Hak untuk mendapatkan pendidikan, kesehatan, sosial pihak pihak yang ribut saat ini soal tapal batas dimana,? Tanya dia.

Jangan hanya berkeinginan besar ingin memperluas wilayah tapi kedepanya tidak mampu tanggung jawab masyarakat,lebih baik stop jangan korbankan masyarakat demi kepentingan luas wilayah dan kepentingan politik.

“Batas-batas moyang kami sudah ada sehingga jangan lagi mengklaim wilayah kabupaten Mimika,” ucapnya.

Jery juga menegaskan kepada senior-seniornya, bahwa hasil dari dana kemitraan PTFI, berhasil contonya, menjadi gubernur, bupati, ketua DPR, kepala-kepala dinas, kepala bagian, kepala badan,dan direktur-direktur di perusahaan-perusahaan. Semua itu merupakan hasil yang dibiayai oleh dana kemitraan PF Freeport Indonesia melalui YPMAK.

“Anak anak suku MoniĀ  bagian selatan, Mee bagian selatan,banyak dibiayai dari YPMK karena kami orang-orang di tapal batas ini ada di dalamnya. Makanya, kita suku Moni dan Mee bisa masuk sebagai penerima manfaat, dapat kemurahan pendidikan. Dan hari ini sudah terlalu banyak. sumber daya manusia yang dicetak oleh dana kemitraan, oleh karena itu, mari kita bangga dengan Kabupaten Mimika,” Tutup Jery Diwitau.

You cannot copy content of this page