TIMIKA| Persoalan sampah di Mimika dinilai tidak cukup diselesaikan hanya dengan menambah armada dan mengangkut sampah ke tempat pembuangan. Perubahan justru perlu dimulai dari sumbernya, dengan mendorong masyarakat memilah sampah sekaligus memberikan nilai ekonomi terhadap material yang masih dapat didaur ulang.
Hal tersebut disampaikan Kepala Distrik Mimika Baru, Merlyn Temorubun, saat melihat hasil pelaksanaan Pos Timbang Merdeka di Distrik Mimika Baru, Sabtu (8/8/2026).
“Bagaimana kalau sebagian persoalan sampah Mimika ternyata bisa dikurangi sebelum sampah itu masuk ke sistem pengangkutan?” ujar Merlyn.
Selama tiga hari pelaksanaan Pos Timbang Merdeka, masyarakat secara mandiri datang membawa berbagai material yang selama ini berpotensi menjadi sampah, mulai dari karton, botol, besi, buku, seng hingga material daur ulang lainnya.
Material tersebut kemudian dipilah, ditimbang dan memiliki nilai ekonomi. Masyarakat memperoleh manfaat secara langsung, sementara volume sampah yang masuk ke sistem pengangkutan dapat ditekan.
Hasilnya cukup signifikan. Dalam tiga hari, sekitar 6,29 ton material daur ulang berhasil dihimpun, dengan rata-rata sekitar 2,1 ton per hari.
Jika dibandingkan dengan estimasi timbulan sampah perkotaan Mimika sekitar 90 ton per hari, capaian tersebut setara dengan kontribusi awal sekitar 2,3 persen terhadap timbulan sampah harian perkotaan.
“2,3 persen memang belum besar. Tetapi ini bukan perkiraan. Ini kilogram yang benar-benar masuk dan ditimbang,” tegas Merlyn.
Menurutnya, angka tersebut menjadi bukti bahwa ketika masyarakat diberikan ruang, sistem dan manfaat ekonomi, mereka dapat terlibat langsung dalam pengurangan sampah dari sumbernya.
Merlyn menilai pendekatan Pos Timbang Merdeka layak terus diuji dan dikembangkan sebagai salah satu instrumen Pemerintah Kabupaten Mimika dalam menangani persoalan sampah.
Namun, ia menegaskan bahwa pengelolaan sampah tidak bisa hanya mengandalkan satu pendekatan.
“Infrastruktur harus diperkuat supaya masyarakat mudah membuang pada tempat yang benar. Pemilahan harus diberi nilai ekonomi supaya masyarakat memiliki alasan kuat untuk memilah. Perubahan perilaku harus dibangun mulai dari rumah dan RT, dan aturan juga harus ditegakkan,” jelasnya.
Ia berharap gerakan tersebut dapat menjadi bagian dari perubahan cara pandang masyarakat terhadap sampah. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai, menurutnya, dapat menjadi sumber manfaat ekonomi apabila dikelola dengan benar.
Karena itu, masyarakat yang sudah mampu memilah didorong untuk terus melakukannya dan memanfaatkan nilai ekonomi dari material tersebut. Sementara masyarakat yang belum melakukan pemilahan diingatkan agar setidaknya membuang sampah pada tempat yang telah disediakan.
Di sisi lain, Merlyn menekankan satu hal yang tidak boleh ditawar, yakni larangan membuang sampah ke sungai.
“Jangan lagi buang sampah ke sungai,” tegasnya.
Ia optimistis pendekatan tersebut dapat terus dikembangkan karena hasilnya dapat diukur, masyarakat terlibat secara langsung, lingkungan mendapatkan manfaat, dan nilai ekonomi dari sampah dapat kembali kepada masyarakat.
“Masalah sampah bukan hanya soal mengangkut. Kita harus membuat masyarakat mau berubah,” pungkas Merlyn.
Gerakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari semangat untuk membangun lingkungan yang lebih bersih menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.









