PGI Tegaskan Solidaritas untuk Papua Melalui Pendampingan Psikososial dan Perdamaian

TIMIKA| Dalam upaya memperkuat peran tokoh agama dan pekerja gereja di daerah rawan konflik, Persatuan Gereja-Gereja di Indonesia melakukan kegiatan Pelatihan Motivator Perdamaian & Psikososial Bagi Para Pekerja Gereja di Daerah Konflik Mimika – Papua Tengah resmi dibuka melalui ibadah bersama pada Rabu (16/9/2026) di Timika.

Kegiatan yang berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 16 hingga 19 September 2026 ini, ditujukan untuk membekali para pekerja gereja dengan pemahaman serta keterampilan praktis dalam membangun perdamaian (peacebuilding) dan memberikan pendampingan psikososial bagi masyarakat yang terdampak konflik di kawasan Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) menegaskan komitmennya untuk terus berjalan bersama masyarakat Papua dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Sekretaris Umum PGI, Pdt. Darwin Darmawan, M.Th., saat memberikan sambutan dalam kegiatan itu pihaknya mengapresiasi ketangguhan dan ketulusan masyarakat Papua. Ia menegaskan bahwa kunjungan PGI bersama jaringan gereja anggota dan mitra Katolik merupakan bentuk nyata kehadiran dan solidaritas antarumat beriman.

“Kehadiran kami di sini adalah untuk menunjukkan bahwa saudara-saudara di Papua tidak sendirian dalam bergumul. Ada 105 sinode gereja anggota PGI dan saudara-saudara dari Gereja Katolik yang siap berjalan bersama untuk memperteguh komitmen perdamaian,” ujar Pdt. Darwin.

Ia menambahkan, kehadiran PGI bertujuan untuk memperkuat kapasitas para pendamping psikososial lokal agar semakin siap mendampingi masyarakat yang membutuhkan pendampingan mental dan spiritual.

Menariknya, Pdt. Darwin mengungkapkan bahwa kunjungan ke Papua bukan sekadar memberikan bantuan, melainkan momen untuk belajar dan memperkaya kerohanian. Meskipun perjalanan fisik terasa melelahkan, ia mengaku selalu mendapat kesegaran spiritual setiap kali pulang dari Tanah Papua.

“Apa yang kami berikan tidak sebanyak apa yang telah masyarakat Papua berikan bagi Indonesia. Setiap kali berkunjung ke Papua, saya tidak merasa memberi, tetapi justru mendapatkan banyak hal. Hati dan jiwa terasa lebih segar, dan semangat diperbaharui,” ungkapnya.

Mewakili Majelis Pekerja Harian PGI, Pdt. Darwin menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada masyarakat Papua atas penerimaan serta kesempatan untuk belajar dan melayani bersama.

Pendeta Dora Balubun mewakili PGI Wilayah Papua. Ia menyoroti fenomena pergumulan besar yang dialami warga jemaat akibat pergeseran konflik dan kekerasan. Ia menjelaskan bahwa kondisi pengungsian warga Papua saat ini mengalami perubahan pola dibandingkan beberapa dekade lalu. Jika pada era 1960–1970-an warga mengungsi hingga keluar negeri (seperti ke Papua Nugini), sejak tahun 2018 pola tersebut berubah menjadi pengungsian internal atau lokal.

“Sejak 2018 hingga saat ini, warganya tidak mengungsi ke luar, melainkan menjadi pengungsi lokal. Warga dari wilayah seperti Nduga dan Intan Jaya berpindah mencari perlindungan ke daerah yang dianggap lebih aman seperti Wamena, Timika, hingga Nabire,” ungkap Pendeta Dora.

Gereja-gereja di Papua termasuk Gereja Kemah Injil Indonesia (Kingmi), Gereja Injili di Indonesia (GIDI), serta Gereja Kristen Indonesia (GKI) di Tanah Papuatelah melakukan pendampingan kepada para pengungsi sejak krisis ini membengkak pada 2018.

Pendeta Dora mengungkapkan bahwa pada awalnya kondisi para pengungsi sempat tertutup rapat dan kurang mendapat perhatian publik. Keadaan baru terungkap secara luas setelah adanya kunjungan lembaga gereja internasional yang menyaksikan langsung kondisi di lapangan, khususnya di Wamena.

Hingga saat ini, persoalan pengungsian belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Eskalasi konflik tidak hanya berdampak pada daerah Nduga dan Intan Jaya, tetapi juga mulai meluas ke wilayah lain seperti Maybrat.

PGI Wilayah Papua menegaskan bahwa gereja-gereja akan terus berkomitmen melakukan pendampingan pastoral dan kemanusiaan bagi para korban terdampak, seraya mendorong perhatian serius dari seluruh pihak untuk menyelesaikan akar persoalan HAM di tanah Papua. (ray)

You cannot copy content of this page