Reses II Yan Pieterson Laly Saat Bertemu Asosiasi Pencaker Lokal Cartenz Mimika Pagi Tadi. FOTO:Rayar (13/10/2025
TIMIKA| Akhiri Reses II Politisi Partai Gerindra Komisi III DPR Kabupaten Mimika Yan Pieterson Laly, ST. Bertemu asosiasi pencari kerja (Pencaker) di Honai Asosiasi Pencaker Lokal Cartenz Kabupaten Mimika, Papua Tengah Pagi Tadi. (13/10/2025)
Salah satu pencaker perwakilan perempuan yakni, Wilhelmina mengeluhkan berbagai keluhan saat mencari pekerjaan, dirinya juga menyinggung terkait hak pembayar gaji menurut pengalaman dia, gaji standar buruh di kabupaten Mimika baik yang bekerja di wilayah kota timika sangatlah memprihatinkan tidak menutup kemungkinan yang bekerja di PT Freeport Indonesia pasti mengalami hal yang sama.

“Tolong bapak dewan khususnya komisi III, agar melihat hal ini, untuk mendapatkan kerja sangat susah. Kemudian masalah upah minimum di Timika sangat tidak wajar kami bekerja di toko-toko besar hanya digaji 2 juta rupiah sedangkan bahan pokok saja mengalami kenaikan dipasar”,ucapnya.
Adi magai seorang pencaker OAP mengatakan UUD Cipta Kerja tahun 2023 dinilai masih menjadi beban bagi pencaker di wilayah kota timika dimana bagi calon tenaga kerja yang ingin bekerja harus mengeluarkan uang jutaan rupiah guna mendapatkan berbagi sertifikan baik K3 Keselamatan dan Sertifikasi kopentensi keahlihan.

“UUD Cipta Kerja ini menjadi beban bagi kami pencaker, uang jutaan rupiah kita keluarkan hanya untuk sertifikat baru bisa kerja, itupun belum tentu kami diterima bekerja,”ungkap dia.
Harga sertifikat kopetensi, dinilai menjadi beban moral dimana belum mendapatkan penghasilan namun pencaker sudah mengeluarkan dana jutaan rupiah hanya untuk mendapatkan sebuah sertifikat.
Menanggapi keluhan para pencaker, Yan pieterson Laly, mengatakan hingga saat ini komisi III yang dibidanginya bersama rekan-rekan dewan lain akan mengawal apa yang di sampaikan saat ini.
“Kami DPR Komisi IIi bersama asosiasi pencaker akan terus bersama-sama komisi III, untuk terus mengawal OPD terkait yakni Disnakertrans Kabupaten Mimika guna mengecek sejumlah keluhan terkait biaya sertifikat dan keluhan pembayaran hak gaji yang dinilai tidak sesuai aturan tenaga kerja baik bekerja di kota timika dan di semua perusahaan PT Freeport dan kontraktor yang ada di Timika.

Kesempatan yang sama. Yance perwakilan pencaker suku kamoro, berharap PT Freeport Indonesia jangan tutup mata dengan banyaknya anak suku amungme kamoro hingga kini masih banyak pengangguran, Yance mengakatan data orang asli papua suku kamoro yang bekerja di freeport hanya berjumlah 98 pekerja mulai dari area kerja dataran tinggi hingga portsite.
“Orang kamoro dan amungme itu punya kasih besar sehingga semua orang bisa datang ke mimika untuk mencari pekerjaan, namun pemerintah dan freeport jangan menutup mata,”ucapnya.

Markus Beanal wakil ketua asosiasi tersenut juga memberikan apresiasi kepada anggota dprk Mimika fransi partai gerindra Yan Pieterson Laly, dimana reses ini dinilai sangat menyelamatkan pencaker saat ini.
“Hari ini terjadi, pak Yan Laly membuktikan bahwa hatinya untuk kami di asosiasi pencaker Mimika, mari kita berjalan sama sama biak pencaker amungme dan kamoro, dan semua pencaker yang ada di asosiasi ini, kami apresiasi buat reses dewan saat ini,”terangnya.
Akhir imbuhnya, Yan mengatakan komisi III DPRK Mimika akan terus bersama-sama dengan Asosiasi Cartenz dan Pemkab Mimika bersama mengawal setiap proses dan regulasi untuk membantu pencaker lokal di Mimika. (Pewarta/Rayar)









