TIMIKA| Keikutsertaan kontingen Papua Tengah dalam Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Panahan Junior 2026 di Kudus, Jawa Tengah, diwarnai kisah haru sekaligus miris. Tidak ada dukungan anggaran dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah memaksa para atlet dan orang tua berangkat menggunakan biaya mandiri dari hasil swadaya.
Kondisi memprihatinkan ini menimpa para atlet muda berbakat dari dua basis kekuatan panahan di Papua Tengah, yakni Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika. Di Nabire, dua klub panahan sepakat memberangkatkan para atletnya menggunakan uang pribadi orang tua demi menjaga asa dan mimpi anak-anak mereka.
Situasi tak kalah berat dialami Kabupaten Mimika. Tiga klub yang menaungi atlet-atlet terbaik yakni Nemangkawi Archery School, Cendrawasih Archery Club, dan Hidayatullah Archery Squad pada awalnya bergantung pada bantuan pemerintah daerah. Namun hingga mendekati hari keberangkatan, kepastian dana tak kunjung tiba.
Pelatih Panahan Mimika, Coach Mulki, membeberkan bahwa tidak semua atlet yang telah siap secara teknik dan mental dapat diberangkatkan ke Kudus. Sebagian atlet terpaksa ditinggalkan di Timika lantaran keterbatasan biaya, padahal mereka sudah melakoni pemusatan latihan selama berbulan-bulan.
“Ini memang gawean provinsi, kami paham mungkin anggarannya belum siap. Jadi kami tidak bisa hanya menunggu. Di Nabire teman-teman sudah mandiri, kami di Mimika juga berusaha mandiri. Namun, memang tidak semua orang tua mampu,” ungkap Coach Mulki saat dikonfirmasi, Kamis (23/7/2026).
Demi menjaga asa dan kekompakan, ketiga klub di Mimika akhirnya bersepakat melakukan patungan seadanya agar perwakilan Mimika dan Papua Tengah tetap bisa berlaga di tingkat nasional.
“Yang bisa kami berangkatkan dengan dana patungan, kami berangkatkan dulu untuk menjaga nama Mimika dan Papua Tengah. Yang belum bisa (berangkat), kami rangkul dan beri pengertian agar semangat mereka tidak putus,” tambahnya.
Coach Mulki menegaskan bahwa keterbukaan informasi ini bukan bertujuan untuk menyudutkan pihak manapun, melainkan sebagai bahan evaluasi bersama. Menurutnya, antusiasme dan potensi atlet panahan pelajar di Papua Tengah sangat tinggi, tetapi belum diimbangi dengan kesiapan sistem pendukung dari pemerintah.
“Kami pelatih dan orang tua sudah berusaha mandiri. Kami hanya berharap ke depan ada skema anggaran yang lebih jelas, sehingga anak-anak yang berprestasi tidak lagi harus bertaruh nasib soal biaya,” tegas Mulki menutup pembicaraan.
Meski bertolak dengan segala keterbatasan, perjuangan kontingen mandiri Papua Tengah ini sangat membutuhkan dukungan moril dari seluruh masyarakat. Peristiwa ini diharapkan menjadi catatan penting bagi Pemprov Papua Tengah maupun Pemkab setempat agar pembinaan atlet-atlet muda potensial tidak berhenti di tengah jalan. (rayar)









