Ketua Yayasan Hati Tulus Intan Jaya (YHTIJ), Nahor Maisini, SE, M. Th, Bersama Bupati Intan Jaya, Tokoh Gereja, Tokoh Pemuda Saat Menyerahkan Buku Bacaan (FOTO:Rayar)
SUGAPA| Upaya memerangi angka buta aksara di Kabupaten Intan Jaya terus digalakkan oleh elemen masyarakat sipil. Terbaru, Yayasan Hati Tulus Intan Jaya (YHTIJ) melakukan aksi nyata dengan mendistribusikan sedikitnya 10.000 buku bacaan yang difokuskan untuk pemberantasan buta aksara di wilayah tersebut. Kegiatan ini dihadiri langsung bupati Intan Jaya Aner Maisin S.Kom., S.H., M.H, hadir dan menyerahkan distribusi buku-buku tersebut. (29/1/2026)
Ketua Yayasan Hati Tulus Intan Jaya (YHTIJ), Nahor Maisini, SE, M. Th, menyatakan bahwa gerakan ini lahir dari keprihatinan mendalam terhadap akses pendidikan dan kemampuan literasi dasar anak-anak serta orang dewasa di pelosok Intan Jaya.
Nahor Maisini menjelaskan bahwa distribusi buku ini bukan sekadar pembagian fisik, melainkan sebuah misi untuk menghadirkan masa depan yang lebih cerah melalui kemampuan membaca.

“Kami melihat bahwa kunci perubahan di Intan Jaya adalah pendidikan. Dengan membagikan 10.000 buku ini, kami ingin memastikan tidak ada lagi anak-anak kita yang terhambat masa depannya hanya karena tidak bisa membaca (buta aksara),” ujar Nahor di sela-sela kegiatan distribusi.
Dirinya mengakui bahwa tantangan geografis dan situasi keamanan seringkali menjadi hambatan, namun semangat kerelawanan tim YHTIJ tetap konsisten menyisir distrik-distrik yang selama ini sulit dijangkau oleh layanan pendidikan formal.
Tambah ia, jumlah 10.000 buku dengan sasaran. Anak usia sekolah, remaja putus sekolah, dan orang dewasa di pedalaman. Dengan Misi YHTIJ.
“Menurunkan angka buta aksara secara signifikan di Kabupaten Intan Jaya.”

Melalui gerakan ini, Nahor Maisini juga berharap adanya kolaborasi yang lebih erat antara yayasan, tokoh gereja, dan Pemerintah Daerah Kabupaten Intan Jaya.
“Kami (YHTIJ) tidak bisa jalan sendiri. Kami butuh dukungan semua pihak, terutama pemerintah, untuk memastikan keberlanjutan program literasi ini. Buku adalah jembatan ilmu, dan hari ini kita sedang membangun jembatan itu untuk masyarakat Intan Jaya,” pungkasnya.
Aksi pembagian buku ini mendapat sambutan hangat dari masyarakat setempat. Kehadiran YHTIJ diharapkan menjadi pemantik semangat bagi generasi muda Intan Jaya untuk kembali gemar membaca dan belajar meski di tengah keterbatasan.

Program ini direncanakan akan menyasar distrik-distrik yang selama ini memiliki keterbatasan tenaga pendidik dan fasilitas sekolah. YHTIJ akan bekerja sama dengan relawan lokal dan tokoh gereja untuk memastikan buku-buku tersebut sampai ke tangan yang tepat.
Lanjut pihaknya mengajak seluruh lapisan masyarakat dan pemerintah daerah untuk tidak tinggal diam melihat kondisi literasi di Intan Jaya.
“Tugas ini berat jika dipikul sendirian. Yayasan Hati Tulus membuka diri untuk berkolaborasi dengan siapa saja yang memiliki visi yang sama untuk kemajuan pendidikan di Papua,” tambahnya.
Sehingga saat ini tokoh-tokoh gereja yang ada akan memastikan jemaatnya dan juga membantu yayasan untuk mengajarkan jemaat yang ada agar bisa membaca dan menulis, tutupnya. (Rayar)









